akan realitas cinta Plato di dunia
Pendahuluan
Begitu banyak lagu, puisi, novel, film, dan hidup yang terinspirasi dan tercipta karena cinta. Hal ini tercipta saat keadaan baik, dan tidak sedikit juga dari kegagalan cinta. Kita tahu apa itu cinta tapi kita susah untuk mendefinisikannya. Hal ini mungkin dikarenakan cinta sendiri merupakan ide yang kiranya hanya kita tahu bayang-bayangnya saja. Inilah yang ditangkap Plato dan ingin diuraikannya. Pembicaraannya dalam symposium juga menyangkup banyak aspek. Namun saya menulis ingin menarik suatu benang merah. Kenapa cinta sering juga menghadirkan suatu realita yang buruk, jahat, kejam, dan bahkan menyakitkan dalam kehidupan ini. Apakah itu masih dapat disebut sebagai cinta? Kita tahu bahwa kehidupan dimulai dari cinta, dan cinta menciptakan hal-hal yang besar. Bahkan John Powell pernah berkata bahwa “orang yang berhasil adalah orang yang menemukan cinta.” Untuk membatasi ulasan cinta ini, saya memberi batasan kepada cinta sepasang manusia yang menjalin cinta dan mengalami kegagalan dan cenderung seakan menimbulkan luka yang begitu dalam. Apakah Plato berbicara juga mengenai hal ini? Atau saja ide Plato hanya mengenai cinta tertentu sehingga dikenal istilah dalam berhubungan yaitu cinta Platonic? Kita akan mencoba menjawab dan menarik kesimpulan akan cinta ini dalam buku Dialog of Plato dalam bab Symposium. Apa yang saya jabarkan banyak dikandung dalam buku ini dan apabila dituliskan catatan kaki mengenainya maka akan terlalu banyak, sehingga dalam menyajikannya saya akan memilih sedikit bagian yang saya kira penting dan perlu untuk diberi catatan kaki.
Cinta dalam Symposium
Idea Plato mengenai Cinta tersaji di dalam tulisan Symposium yang dituliskan sekitar 360 SM. Setting pembicara ini di rumah Agathon, dan pembicaraannya diriwayatkan dari kawan-kawan Plato seperti Apollodorus, Glaucon, Phaedrus, Pausanias, Eryximachus, Aristophanes, Agathon, Sang Guru Socrates, Alcibiades, dan sepasukan Revellers.
Seperti dalam pendahuluan saya, cinta yang saya bahas cenderung untuk menemukan kenapa luka dapat muncul dalam cinta dan seakan orang mati dan patah semangat. Sekali lagi apakah Plato juga membicarakannya? Inilah sekilas pembicaraan yang saat itu membahas Alcestic dan Achilles yang rela mati karena cintanya.
Dikatakan bahwa cinta membuat laki-laki dan perempuan berani untuk mati untuk apa yang mereka cintai. Alcestic mau melakukannya untuk suaminya meskipun ia memiliki ayah dan ibu yang begitu mencintainya. Achilles sendiri mau mati demi cinta yang dilihatnya. Cinta Achilles sendiri berusaha memenuhin ide cintanya, namun ini membawanya kepada kebodohan akan hidup, karena yang ia cintai hanyalah dia cintai (belum tentu lawannya ini mau mencintai sebesar dirinya). Dari dua kasus ini ditemukan aspek bahwa dimensi cinta juga merupakan kesepakatan bersama yang bila disepakati untuk berjalan bersama maka akan mampu menghasilkan hal yang baik, bahkan meningkatkan kebajikan. Dan digambarkan seperti mengarungi dunia yang hampir ke surga dan cintalah batu pijakannya. Lalu sebenarnya apa yang membuat orang bahagia dengan cinta? Nilai apa yang ada di dalamnya?
Nilai-nilai yang ada dalam cinta adalah kelembutan, keadilan, kesederhanaan, keberanian, emosional, terbaik, paling bersinar, pembawa damai. Cinta memperlengkapi pencintanya untuk memiliki gambaran akan kebesaran dan kebaikan. Namun perlu diingat bahwa pencinta hanya akan mampu untuk memuja kebenarannya, meskipun bukan pada dirinya sendiri cinta merupakan ungkapan hasrat yang muncul.
Definisi cinta Plato masih sulit didapati dan nampaknya akan tidak didapati, tetapi pemahamannya sudah sedikit banyak kita tahu. Satu pernyataan yang akan saya bawa adalah dari Plato yang meriwayatkan Cinta dari Phaedrus demikian katanya “ Cinta merupakan anak sulung dari dewa dan merupakan sumber dari sesuatu yang terbesar. Dan untuk itu cinta yang berharga adalah pendorong terbesar bagi kebajikan”. Cinta mampu menginspirasikan orang tersebut dan Plato kembali mencoba meriwayatkan dari pembicaraan Socrates dan Agathon yang disimpulkan bahwa “cinta bukan saja keindahan dari Sang keindahan, dan Sang Keindahan itu adalah kebajikan.” Ide indah itu sendiri menyiratkan menghadirkan hal yang buruk dalam memperoleh kebajikan.
Cinta dalam pembicaraan Plato ini tidak dipungkiri menghadirkan yang jahat dalam keberadaannya di dunia ini. Namun dapatkah yang jahat menghadirkan kebajikan? Menurut hemat saya manusia akan belajar dari hal buruk untuk berpijak menuju kebajikan. Maka kalau dilihat dari hal ini maka cinta yang sebagai pijakan ke sorga bukanlah suatu hal yang salah dalam pembicaraan Plato. Namun sayang terkadang kita manusia yang mencintai tidak mampu menahan luka dan bangkit dalam keterpurukan karena meratapinya. Lantas apakah luka ini masihkah disebut proses cinta?
Kadar buruk yang hadir dalam proses cinta bisa diterima apabila menimbulkan kebajikan. Namun bila tidak, ini bisa dikatakan bukanlah realitas cinta tetapi ini hanyalah ide cinta. Ide mau membawa kita kepada konsep-konsep yang sudah kita maknai tapi kebenaran dalam hal pelaksanaan di dunia ini bisa jadi kurang tepat (seperti halnya Achilles). Perlu diingat bahwa cinta tidaklah posesif bukan konsep cinta pada diri kita sendiri tapi juga lawan yang kita cintai.
Pertemuan Ide Cinta Plato dan Realita
Dari pemahaman yang kita dapat dari symposium, ide cinta itu membawa manusia kepada kebajikan dan kehadiran yang buruk dapat kita pahami sehingga kita tidak posessif akan cinta itu. Realita berbeda dengan ide, realita adalah keadaan yang nyata sesungguhnya dan memiliki nilai pengetahuan di dalamnya. Sering orang mengganggap bahwa penggunaan pemikiran filsafat tidak jelas. Namun sesungguhnya penggunaan yang tidak jelas ini dikarenakan kita yang memaknainya terlalu bebas.
Bahkan cinta sering kita maknai bebas, dan tanpa mau membuat sedikit makna yang dikandung di dalamnya. Maka tidak jarang karena terlalu bebas itu kita seakan sukarela untuk diperbudak cinta. Jangan –jangan ide Plato mengenai cinta yang dapat membawa kebajikan dan menyadari yang buruk hadir bukan berarti memperbolehkan kita mendapat luka di dalam mencari dan menghayati cinta? Lantas bagaimanakah sesungguhnya pemahaman ‘teori’ Cinta Plato ini?
Perlu diingat bahwa ada pembicaraan mengenai Alcestic dan Achilles yang rela mati demi cintanya. Serta ada pandangan dalam berfilsafat bahwa filsafat yang tidak menjadikan seseorang mampu menghadapi maut, bukanlah filsafat yang baik. Kata-kata ini bagi saya menimbulkan memikiran jangan – jangan ini bisa menjadi pembenaran akan hal yang buruk bahkan mati yang dikarenakan cinta itu. Pembenaran ini semacam candu bagi pemegang teori filsafat, candu yang memungkinkan orang itu menghadapi maut. Walau dapat dibuat demikian, tetapi pemahaman seperti ini bisa jadi salah sama sekali serta merugikan.
Mungkin benar ide cinta yang begitu bebas membuat Alcestic mau mati untuk suaminya tanpa melihat cinta orang tuanya, yang di dalamnya mengandung suatu positivsme. Dan Achilles yang mencintai orang lain dengan idenya juga tidak melihat positivsme tetapi hanya idealismenya. Makna bebas dalam teori filsafat sangat berbahaya bila tanpa mencari essensi mendalam pernyataan tersebut. Bila hanya rela mati, cinta hanyalah membawa luka bagi kehidupan lain, dan menjadi pertanyaan sepanjang masa meski mati ataupun bunuh diri dapat dibenarkan (lihatlah cerita Sokrates).
Rela mati disini layaknya kita pandang sebagai hasrat / desire dari cinta. Analisa filsafat dari cinta Plato memang harus melihat secara luas. Ide cinta Platonic sedikit banyak sulit dinyatakan dalam realita tetapi bukan berarti tidak mungkin. Konsep ide yang sulit dinyatakan dan direalisasikan ini sebenarnya telah dijabarkan dan ingin sedikit Plato perkenalkan pada kita dari mitos gua dalam Republik.
Gambar yang dilihat manusia yang merupakan bayangan dari matahari merupakan realitas yang ada. Dan matahari itulah simbol ide. Manusia terlalu terperangkap akan realita dan terpukau oleh bayang-bayang itu, andai mereka mau menoleh ke belakang dan mencari darimanakah bayangan itu berasal , mereka berarti telah di dorong untuk mencari ide yang sesungguhnya. Hasrat mencari itu dapat diartikan cinta untuk mencari yang baik, namun seringkali saat telah menemukan matahari itu dan kita terpukau karenanya dan ingin menceritakan kepada manusia lain di goa, dan saat kembali kita sering diolok-olok gila akan pemikiran kita dengan cahaya yang indah itu. Karena kita diolok-olok itulah perasaan kita menjadi tidak aman dan cenderung memilih untuk tidak mau menuju matahari itu lagi dan cenderung diam bersama manusia yang lain untuk melihat bayangan itu lagi.
Jelas bahwa pemikiran Plato ingin menemukan hakikat dan enstitas abstrak yang ada. Ia menganggap bahwa semua itu tidak terikat oleh eksistensi ruang dan waktu, dan hal ini ingin disamakan / generalisasikan oleh Plato terhadap semua realitas yang ada. Ide akan keindahan tidak akan punah meskipun sulit dilakukan bukan berarti tidak ditemukan. Cinta Plato ini juga demikian kita tahu bahwa cinta mendorong melakukan kebajikan dan hal buruk datang, tetapi manusia sulit menerima realitas buruk yang datang itu. Dari alam ide ini mungkin saja. Sehingga pertanyaan cinta membawa luka apakah bisa disebut cinta? maka jawabnya ya! itu cinta. Tetapi cinta ini realistiskah? Jawabnya belum tentu. Ide cinta itu sendiri menurut Plato seperti salinan yang fana tapi mengandung kebaikan moral dan nilai yang coba dipertahankan tapi dicoba untuk dilihat lagi.
Cinta yang membawa luka merupakan cinta, luka ini dimungkinkan karena kekecewaan pencinta akan keburukan yang hadir. Cinta Plato ingin menyampaikan suatu kebenaran dan cara penggunaannya. Saat orang mengetahui hakikat cinta diharapkan ia mampu menggunakannya karena saat ia mampu melakukannya, maka akan lebih mendapat kepuasan dari pada kekecewaan di dalam hidupnya. Kekecewaan bukan hanya frustasi, melainkan lebih dari hal itu. Kekecewaan ialah frustasi yang tidak dimengerti alasannya. Bagi orang yang berpengetahuan, atau tidak sesat, kekecewaan hanyalah dorongan baginya untuk berusaha lebih lanjut, bahkan kesesuaian jiwa.
Jelas sudah luka dalam cinta merupakan usaha untuk melakukan kesesuaian jiwa, karena saat mencari cinta yang didapat hanyalah kehampaan. Jangan –jangan kita akan tidak menemukan realitas cinta dalam hidup ini karena kekecewaan itu. Ide cinta dalam pribadi manusia bisa disebut impian, ide, dan pengharapan tapi di dunia ini tidak ada yang seperti itu karena yang ada hanyalah realita / kenyataan. Luka sebagai bentuk penyesuaian tadi mungkin bisa dipandang hal yang negatif. Namun saya mengajak sekali lagi untuk melihat ini sebagai proses dalam memenuhi ide cinta itu. Luka atau kekecewaan ini dapat diartikan sebagai cerminan kenyataan ide cinta dan harus dijawab dengan kenyataan bukan perasaan yang kadang bertindak aneh-aneh tidak sesuai logika. Hal ini dikarenakan pemikiran filsafat harusnya dapat membuat orang menghadapi maut – bisa kita pikirkan luka, kekecewaan, ataupun frustasi- dengan membantu membuat jalan untuk hidup.
Setelah kita temukan pemikiran cinta yang membawa luka adalah salah satu wujud proses yang hadir dalam cinta. Kita temukan bahwa realitas cinta yang membawa luka adalah usaha maupun upaya untuk menjawab kenyataan. Kenyataan ini mungkin sedikit banyak dapat dijawab dengan suatu senjata. Senjata itu ialah senjata dalam bersengketa dalam filsafat yaitu dialektika aturan-aturan tentang logika, dan bahan-bahan bukti, serta pendapat-pendapat yang benar. Memang bila cinta Plato ini kita kejar terus yang didapati hanyalah ide yang sulit ditarik realitanya. Maka ide ini harus diturunkan dalam realita, tetapi apakah Plato memberikan jalan keluar realita untuk cintanya? Atau dia hanya memaparkan ide yang mungkin hanya dia yang menemukannya? Dimensi cinta yang kita bahas saya ingatkan sekali lagi mengenai pasangan yang saling mencintai bukan cinta dalam hal lainnya. Jadi apakah Plato memberi solusi akan realita ide cinta yang mungkin semakin dicari hanyalah kehampaan yang didapat? Adakah realita cinta itu bagi sepasang anak manusia yang mencintai?
Cinta realistis
Dalam pemahaman Plato kembali saya ingatkan cinta membawa kepada kebajikan dan menyiratkan yang buruk itu ada. Menyiratkan ini bentuk dari usaha membawa kepada realitas, karena cinta Plato dalam symposium cenderung mengarah kepada kesempurnaan dan dalam usaha pencariaannya dapat membuat kita hanya menemukan kehampaan dan proses menuju kesempurnaan ini adalah waktu. Kita tahu semua bahwa waktu tidak dapat diputar maka apabila kesempurnaan ide cinta itu telah kita dapat sebelumnya maka kita tidak dapat kembali kepadanya, jadi hanya kehampaan dan kesia-siaan yang menghadirkan kekecewaan yang ada karena kita tidak mendapat apapun kecuali ide cinta itu sendiri.
Ada sebuah cerita mengenai Plato dalam menemukan cinta dan demikian ceritanya. Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?
Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta" Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"
Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat ku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasannya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya"
Gurunya kemudian menjawab " Jadi ya itulah cinta"
Dari cerita itu menyiratkan cinta juga menghadirkan keburukan yaitu kehampaan dan kita tidak mendapati satu pun. Jadi kita tahu ide cinta yang membawa luka itu benar ada. Maka agar lebih realistis kita selayaknya mencoba langkah untuk menindaklanjuti cinta dan proses luka dalam mencari cinta dapat ditindak lanjuti. Jadi sebaiknya apa yang digunakan sebagai langkah tindak lanjut itu? Apakah Plato pernah memberikan wacana akan tindak lanjut cinta bagi sepasang anak manusia agar ia mampu menghadirkan ide cinta dalam suatu realitas?
Plato sebenarnya menyiratkan ini dalam buku Dialog of Plato dalam bab Lysis. Persahabatan sebenarnya salah satu ide yang baik untuk menjembatani yang buruk hadir. Bila ide cinta hanya menyeratkan hadirnya keburukan, maka dalam ide persahabatan yang buruk menjadi yang jahat lebih nyata dialami atau diharapkan nyata dirasakan. Luka yang timbul dalam proses mencari cinta akan bisa lebih kita maklumi dalam ide persahabatan, sebelum menindaklanjuti cinta sepasang anak manusia selayaknya mencoba untuk menjalin persahabatan dengannya. Proses persahabatan ini seperti proses hidup dalam memilih dalam rangka merealisasi konsep cinta itu. Sebelum kita memetik, menebang, atau memilih lebih baik kita menangkap ide cinta itu dengan persahatan. Dimana saatnya nanti bila sudah tepat kita dapat memilihnya. Namun perlu diingat realita bahwa waktu juga hadir, atau dengan kata lain bila terlalu lama memilih mungkin usaha perealisasian cinta ini juga hanya menemukan kehampaan.
Oleh karenanya untuk menindaklanjuti persahabatan itu dimana yang jahat hadir kita mungkin diharapkan Plato untuk melanjutkan kesempatan merealisasikan cinta dengan perkawinan. Ingat karena cinta merupakan ide dan hanya di dalam ide kita atau mungkin kita bahasakan dengan berada dalam lubuk hati, realitanya menjadi dipertanyakan. Perkawinan sendiri dalam ide Plato disajikan dengan cerita berikut.
Suatu hari, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?"
Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan"
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar / subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.
Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"
Plato pun menjawab, "Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya"
Gurunya pun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan"
Plato menyuguhkan realita pada kita bahwa perkawinan dikarenakan pengalaman sebelumnya karena tidak mendapatkan cinta. Pemikiran Plato sangat realistis dalam cerita ini. Mungkin ini harapan dirinya dikarenakan cinta membawa luka dan kita diharapkan tidak terlalu kecewa akan cinta ini. Sehingga langkah nyata bagi dua sejoli yang menjalin cinta adalah perkawinan. Dalam perkawinan akan menyadari ketidaksempurnaan kedua belah pihak dan pengharapan akan keindahan abadi dapat ditunjukan bahwa itu ide. Bila kedua orang menyadari esensi perkawinan sebagai langkah perealisasian cinta yang menghadirkan kebajikan dan keburukan, maka luka atau kekecewaan mungkin lebih dapat dimaklumi lagi kehadirannya dalam proses itu. Perkawinan memanglah proses mencintai, namun Plato juga sedikit banyak mengajarkan bahwa di dalamnya ketidaksempurnaan itu juga hadir.
Dari pembahasan cinta realistis ini kita dapat mengetahui Plato sendiri sebenarnya juga berusaha membawa ide cinta menjadi realita-realita yang juga masih beride. Bila susah mencari cinta karena kesempurnaan dan yang didapat hanya kehampaan maka mencobalah bersahabat. Bila susah mencari cinta karena kesempurnaan dan yang didapat hanya kehampaan lagi maka perkawinanlah jawabnya. Namun dari dua kesimpulan perealisasian cinta ini Plato cenderung menawarkan perkawinan, sedang saya pribadi mencoba menawarkan persahabatan dahulu sebelum menuju perkawinan.
Kesimpulan
Ide Cinta suatu yang sempurna memang ditawarkan Plato. Cinta merupakan suatu daya kuat dan gemilang yang mendorong dia ke atas. Asmara yang dihadirkannya membawa kita menapak ke sorga, dan dikatakan bahwa dalam kereta dewa-dewa cinta merupakan hal yang ditampilkan pertama olehnya. Tidak aneh bila cinta yang membawa asmara ini diidam-idamkan oleh banyak anak manusia, dan prosesnya penemuannya sendiri sangat sulit dan cenderung hanya kehampaan yang didapat.
Cinta yang membawa luka salah satu konsekuensi dalam pencarian cinta, dan Plato sendiri mengamininya. Memang Plato tidak menceritakan luka yang ada dalam cinta secara mendalam, namun pembahasan yang buruk menurut saya sudah cukup untuk mewakilinya. Cinta yang membawa luka ini juga adalah cinta, dan merupakan ide cinta dalam tahap pencariaannya. Bila dilihat dari kesempurnaan luka ini bukan cinta, tapi tak ada yang sempurna di dunia ini jadi haruslah kita realisasikan. Plato memberi tawaran untuk mengobati luka yang hadir dalam cinta dengan perkawinan. Hal ini saya setujui mengingat di dalamnya ada kesadaran bahwa perkawinan bukan berangkat dari kesempurnaan untuk mewujudkan kebahagiaan dan kedamaian cinta.
Kebahagiaan dapat kita raih di dunia ini bukan dari kesempurnaan karena kita tidak mampu untuk menggapainya. Cinta yang membawa luka menurut saya merupakan realisasi dari ide cinta yang sulit kita gapai, karena saat menggapainya hanyalah kehampaan yang didapati. Konsep Cinta sejati merupakan pilihan bagi kita untuk mencarinya terus ataukah merealisasikannya. Dan pilihan itu ada ditangan kita, dan eksistensi ruang dan waktu perlu dipertimbangkan.
Cinta yang saya bahas ini merupakan suatu cinta bagi sepasang anak manusia, jadi haruslah ada konsep objek dan subjek. Merekalah yang mencari cinta sehingga cinta bukan lagi masalah pribadi kita sendiri tetapi juga orang lain di dalamnya yang berusaha merealisasikan cinta.
Apabila ditarik suatu kesimpulan, maka sebenarnya ide cinta Plato ini ada dan dapat terwujud tergantung seberapa mampu kita memegang pengharapan akan ide cinta ini. Bukti dari ide cinta Plato itu dapat terwujud adalah Plato sendiri tidak kawin dan tidak punya anak. Bukan berarti orang tidak memilih perkawinan tidak menemukan cinta tetapi dari perkataan dan cerita Plato menyiratkan bahwa ia sejatinya masih mencari terus cintanya (ingat bahwa cinta di sini adalah cinta untuk sepasang anak manusia). Namun realitas cinta sendiri perlu disadari terkadang membawa luka. Cerita menebang pohon merupakan realitas cinta, namun Plato memilih terus melihat dan memilih ladang gandum. Plato menunjukan konsistensinya pada dunia ide dengan melakukan sesuai perkataannya. Hal ini sama dengan pendapatnya bahwa perkataan hendaklah sama dengan perbuatan, dan semakin dekat dengan tujuan akhir semakin sulit kita menghadapinya. Plato akan terus melihat ke depan akan cintanya itu, tapi dia juga tidak menoleh ke belakang. Dia mungkin memperkenankan luka hadir dalam hidupnya, dan kita tahu itu benar dinamakan cinta apabila dilihat dari ide Plato. Plato menjadi pribadi yang terus menerus mencari keutamaan esensi dalam hidup dan ide Sang Baik itulah yang dicapai oleh eros / cinta. Plato bahagia dalam hidupnya dan terus berusaha menemukan cinta dan cinta itu menyatu dengan Yang Ilahi.
Mungkin benar akhirnya cinta Plato memang dialamatkan pada usaha manusia mencapai kepenuhan kebahagiaan dalam penyatuaannya dengan Yang Ilahi. Tetapi tidak salah juga kita bisa mengambil cinta ini sebagai nilai pembelajaran dalam menjalin asmara. Cinta yang membawa luka merupakan proses kongkrit dalam pencarian cinta itu sendiri. Realistiskah? Ya itu realistis dalam hidup ini. Namun perlu kita lihat lagi bahwa kekecewaan ini alangkah baiknya menjadi usaha kita mencapai proses yang lebih baik dan membawa kita kepada penyadaran untuk menemukan kebahagiaan dan kedamaian yang membuat kita lebih baik. Cinta merupakan ide kita untuk bahagia dan damai, oleh karena itu seperti kata Prof. E.G. Singgih “Kebahagiaan, kedamaian, akan tercapai saat manusia menyadari dan berusaha untuk realistis.” Maka dalam mencari cinta perlu kita sangat perlu berusaha untuk realistis.
Sebagai penutup makalah ini, eksistensi cinta Plato bisa terwujud berdasarkan lingkup ruang dan waktu yang kita jalani, semua akan dijawab olehnya. Realitas cinta Plato dapat terwujud dengan pilihan kita untuk menindaklanjuti cinta itu dengan perkawinan atau mungkin pendapat saya dengan menjalin suatu persahabatan terlebih dahulu. Ide Cinta Plato akan terus kita cari dan tidak tahu kapan terwujud, yang pasti oleh karena cinta muncullah kehidupan yang lebih baik karena hakikatnya adalah membawa kebajikan. Apabila sudah tidak membawa kebajikan, itulah proses pencarian cinta yang terkadang yang buruk hadir tersirat dan banyak hal aneh yang kita dapati. Teruslah kita berproses menemukan realitas cinta karena keberhasilan hidup dapat diraih dengan menemukan cinta.
Demikian makalah akhir Filsafat Yunani yang saya tulis. Makalah ini ditulis dengan banyak pemikiran, dan perasaan saya ikut terbawa bila mencoba menghayatinya. Mungkin menyiratkan kesan curhat, tetapi saya mencoba seobjektif mungkin mencari jawab dari pertanyaan-pertanyaan makalah ini. Terima kasih untuk semua pihak yang telah bersedia berbincang dengan saya mengenai cinta terlebih asmara dalam hidupnya. Makalah ini saya tulis juga untuk seseorang yang saya cintai –RG- dan tak tahu dapatkah direalisasikan seperti saran Plato. Terima kasih untuk perpanjangan waktu yang diberikan dan mohon maaf apabila ada penulisan kata dan pendapat yang kurang berkenan.
Tuhan memberkati...
Daftar Pustaka :
• Terjemahan Jowett.M.A, B. The Dialog of Plato. New York : Oxford University Press. 1920.
• Kattsoff, Louis O. Pengantar Filsafat. Yogyakarta : Tiara Wacana,2004.
• Weij, Dr.P.A. van der. Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia. Jakarta : Gramedia, 1991.
• Hatta, Mohammad. Alam Pikiran Yunani. Jakarta : Universitas Indonesia Press, 1986.
• Suseno, Franz Magnis. 13 Tokoh Etika : Sejak Zaman Yunani sampai abad ke-19. Yogjakarta : Kanisius, 1997









